Sains, Jejaring Sosial dan Teknologi

Heri Puji Hernowo (Admin) 13 Mei 2016 01:56:37 WIB

Tanggal 1 Mei 2013, domain Desa.id diluncurkan di Jakarta. Saya hadir sebagai dukungan penuh terhadap inisiatif hebat para pegiat di lembaga bernama Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (Pandi) dan Gerakan Desa Membangun. Domain Desa.id adalah bentuk perhatian khusus para pendekar bidang IT untuk pembangunan desa. Khususnya, mereka ingin mendorong pemanfaatan teknologi secara maksimal di pedesaan.

Ketika itu, Undang-Undang Desa masih berupa rancangan. Namun, saya sudah memberikan perhatian besar dalam setiap upaya untuk pemanfaatan teknologi bagi desa. Saat itu, tentu saya belum tahu, kapan UU Desa akan bisa disahkan, dan apakah dorongan pemanfaatan teknologi untuk masyarakat pedesaan ini akan menjadi terlalu dini atau tidak. Tetapi yang terpenting, ada upaya terstruktur untuk mempersiapkan seluruh prasarana dan sarana pembangunan pedesaan melalui pendekatan yang lebih modern.

Pendekatan modern itu, menurut saya setidaknya mensyaratkan pemanfaatan tiga hal, yaitu sains atau ilmu pengetahuan, jejaring sosial dan teknologi.

Kini, 3 tahun setelah peluncurannya, ada begitu banyak desa yang sudah membangun website dengan domain Desa.id. Upaya ini adalah salah satu contoh nyata dari pemanfaatan sains, jejaring sosial dan teknologi tadi. Teknologi informasi memberi peluang besar bagi aparat desa atau masyarakat yang mereka pimpin, untuk belajar jauh lebih luas dari batas-batas yang selama ini mengungkung mereka.

Bayangkan, setiap aparat desa kini bisa belajar ilmu pengetahuan melalui internet. Tentang apa saja, sejauh yang mereka butuhkan untuk menunjang pelaksanaan tugas-tugasnya. Mereka bisa belajar mengenai teknik pembangunan bendungan kecil, perencanaan saluran air, metode pertanian organik, penyusunan data demografi penduduk, hingga penghitungan harga jual berbagai hasil pertanian.

Desa-desa yang memiliki domain Desa.id juga berjejaring satu sama lain. Mereka adalah sarang laba-laba yang terhubung dan berbagi informasi melalui koneksi nirkabel. Desa di Pacitan bisa belajar mengenai pengembangan perkebunan durian dari desa-desa di Bengkulu atau Sumatera Selatan. Desa-desa di Nusa Tenggara Timur belajar menanam lada atau cengkeh dari saudara mereka di Maluku Utara. Saya sendiri sudah beberapa kali menggelar video conference dengan puluhan kepala desa secara bersamaan. Beberapa tahun yang lalu, diskusi melalui video ini hanya dilakukan para pejabat setingkat gubernur atau menteri. Sekarang, para kepala desa di Nusantara ini, telah mampu melakukannya untuk berbagi informasi dan berdiskusi tentang berbagai persoalan.

Proses ini pada akhirnya akan mendorong pemanfaatan teknologi secara masif di pedesaan. Bukan untuk menggantikan fungsi tenaga kerja manusia, tetapi untuk memaksimalkan produksi. Karena itulah, salah satu program kerja Kabinet Presiden Jokowi adalah mekanisasi sektor pertanian. Ribuan traktor, mesin panen, mesin pemisah gabah, mesin penanam padi, dibagikan untuk petani. Desa bergerak memanfaatkan teknologi mesin. Begitupun, desa tidak mau kalah dalam pemanfaatan teknologi berbasis informasi. Para nelayan didorong memanfaatkan perangkat lunak dalam mencari ikan. Mereka juga dilatih memanfaatkan ketersediaan informasi harga jual produk laut, agar tahu betul dimana dan kapan menjual hasil tangkapan. Petani tambak memanfaatkan alat kontrol yang tersambung dengan smart phone, sehingga apapun yang terjadi di tambak akan langsung tersampaikan ke mereka. Begitupun proses penjualan hasil tangkapan nelayan dan budidaya tambak, dapat dilakukan melalui internet sehingga transparan dan mereka memperoleh harga maksimal.

Pada sisi yang lain, pemanfaatan ketiga hal ini juga mendorong transparansi penyusunan program pembangunan dan pengelolaan keuangan di pedesaan. Langkah ini memaksimalkan kepercayaan warga terhadap perangkat desa, dan pada sisi yang lain mendorong aparat desa untuk bekerja lebih bersih.

Sains, jejaring sosial dan teknologi adalah tiga faktor yang harus dipadukan dalam membangun desa. Jangan pernah beranggapan bahwa para petani atau nelayan di pedesaan belum siap memanfaatkan perkembangan ini. Barangkali, yang harus diperbaiki justru adalah sudut pandang kita. Karena sebenarnya perubahan besar sedang dan terus terjadi di desa-desa. (Budiman Sudjatmiko)

————————————

Belum ada komentar atas artikel ini, silakan tuliskan dalam formulir berikut ini

Formulir Penulisan Komentar

Nama
Alamat e-mail
Komentar
 

104.4 MHz. FM Radio


Lembaga Penyiaran Publik Lokal (LPPL) Streaming Radio Suara Banjarnegara

Layanan Mandiri


Silahkan datang ke Kantor Desa untuk mendapatkan kode PIN Anda.

Masukan NIK dan PIN

Sinergitas Program

Galeri Video

Video Dokumenter SID Banjarnegara

Komentar Terkini

Website Desa Versi Androide

Silahkan klik Gambar untuk unduh Aplikasi Website Desa Versi HP Androide.

Statistik Pengunjung

Hari ini
Kemarin
Jumlah pengunjung

Lokasi Desa Purwasaba